Kamis, 20 Maret 2014

    mungkin ini terlalu singkat bagiku untuk menyatakan cinta, terlalu singkat untuk mengatakan sayang, tentu saja kau akan menanyakan semuanya dan kau berhak untuk tidak percaya. kenapa bisa cinta ? kenapa bisa sayang ? kita kan baru kenal, kita juga baru dekat, kita dekat baru-baru ini kan, ?
        susah untuk ku menjelaskan rasa ini, perasaan yang ada dalam hatiku, aku juga takut dan tidak mengerti, mengapa perasaan ini hadir begitu cepat dan benar katamu, ini tiba-tiba. kau selalu bertanya sejak kapan, tanpa aku bisa menjawab, tak ada penjelasan untuk cinta ini, yang ku tau, aku benar-benar sayang dan cinta padamu.
       ini adalah jum'at ketiga di bulan maret, dan itu berarti, sudah tiga kali pula aku mendoakanmu, berharap kamu adalah orang yang akan mengingatkan ku untuk selalu berjamaah di rumah. kata teman, aku terlalu bermimpi, bermimpi disiang hari, dia tak pantas untukmu, jadi jangan terlalu berharap padanya. coba lihat siapa dirimu. ah, aku tak peduli, mengapa aku harus memikirkan hal yang masih belum terjadi, aku sepakat dengan sahabatku yang lain, ia bilang aku harus percaya diri.
entah aku yang salah atau aku benar, semua buram atas nama cinta, tak ada yang salah dan tak ada yang benar, semua indah atas nama cinta. melihatmu indah, membayangkanmu indah, merindukanmu juga indah, tapi cinta ini juga menyakitkan, sakit karena kau jauh, sakit karena kau tak nyata, sakit karena kau hanya nama. lalu cinta ini apa ?
     mendengar suaramu aku bahagia, mendengarmu tertawa aku senang, ini kah keajaiban cinta ? atau hanya aku saja yang merasa. ini juga bukan pertama kalinya aku merasa kahawatir bila tak mendapat kabar darimu, sehari bagai setahun, serasa sepi dan hidup sendiri. ini lebih pahit dari sekedar menelan pil pahit tanpa air.
dan sekali lagi, aku ingin mengatakan aku sayang padamu fillah, ingin ku berteriak namun dalam hati, ingin ku ungkap dan ku urai, semua dialog dalam hati, andai saja kau tau, sebentar saja kau mau mendengar cerita ini, sungguh hatiku tak pernah berhenti menyebut namamu, dan aku takut aku kufur karena terlalu mencintaimu, aku takut Tuhan akan marah dan cemburu karena aku terlalu sering mngingat dan menyebutmu.
         pernah sore itu, ketika aku sendiri memandangi senja, ku coba berbisik pada angin, bercerita tentangmu...  banyak sekali, aku tersenyum sendiri, saat burung-burung kecil melintas dihadapanku, aku baru sadar seru muadzin telah meninggalkanku.



1 komentar: