Jumat, 21 Maret 2014


   selama ini ada beberapa pertanyaan yang selalu menghantui pikiranku, pertanyaan tentangmu dan masa depanku, dan lagi-lagi aku tak mampu ungkapkan itu, meski hanya sekedar menjawab salah satu. pernah hari itu, kau bertanya dengan pertanyaan yang sama dalam hatiku, ahh.. andai saja aku bisa menjawab, dan lagi-lagi aku tak bisa menjawab, dan membuatmu tergantung tanpa jawaban, tu membuatku berdosa.
  awal tahun 2014 yang lalu, aku telah menuliskan wacana yang banyak tentang masa depanku, telah merenovasi semua kesalahan dan kekurangan di tahun 2013, impianku tentang negri yang indah, rumah sederhana yang indah dengan taman yang luas, mobil cantik tanpa harus harga mewah ...dan lagi-lagi itu masih menjadi wacana yang belum terealisasi. ahh.. andai saja aku tak melukiskan semuanya, aku mungkin tak kan terbebani dengan impian ini.
     bagiku tak masalah dengan keinginanmu yang tinggi, aku pasti akan mengimbanginya, bagiku tak masalah bila kau menuntut ini dan itu, merencanakan kehendakmu untuk masa depan impianmu, tentang rumah cahaya, dan langit-langit yang biru. aku hanya bertanya, bila nanti telah ku selesaikan semua itu, akan kah kau masih ingat padaku ? ahh... andai saja kau tau, cinta ini tak perlu dibuktikan dengan merajut permadani, karena cintaku lebih indah dari itu.
     hatiku terbakar, bergetar tubuhku saat mendengar kabar tentangmu, subuh itu, belum selesai dzikirku, aku harus berlari membelah kebisuan kabut pagi. ini tidak biasanya, kenapa tiba-tiba ? ahh.. andai saja, aku tak membiarkanmu sendiri, tentu kau masih bisa menemaniku menyelesaikan pertanyaan ini. tak dapat ku tahan air mata, saat melihatmu serupa batang kering, dan lagi-lagi aku tak bisa menjawab pertanyaan ini.
akhir februari, aku tersentak oleh pertanyaanku sendiri, dialog hati yang telah lama terpendam tak bisa jua ku tahan, ternyata, angin di bulan ini, lebih cepat dari lariku, belum lama kau putuskan untuk mengikat tali, dan sekarang kau telah melepasnya. kekhawatiranku berbuah manis, sangat manis, lebih manis dari madu lebih manis dari gula, sangat manis, sungguh sangat manis.
   aku belum memutuskan akhir kisahku, belum menemukan jawaban untuk pertanyaan ini, namun aku terlebih dulu sadar, dan mengambil kesimpulan sendiri, dan lagi-lagi, harus ada yang mengalah dan itu adalah aku. aku yang tak akan menyerah, aku yang tak akan mau berhenti, dengan impian-impian kecil yang harus ku selesaikan, karena itulah yang tersisa dari cinta ini.
sebuah ungkapan, yang membuatku tegar dan bersabar.. bahwa aku mencintaimu fillah.


Kamis, 20 Maret 2014

    mungkin ini terlalu singkat bagiku untuk menyatakan cinta, terlalu singkat untuk mengatakan sayang, tentu saja kau akan menanyakan semuanya dan kau berhak untuk tidak percaya. kenapa bisa cinta ? kenapa bisa sayang ? kita kan baru kenal, kita juga baru dekat, kita dekat baru-baru ini kan, ?
        susah untuk ku menjelaskan rasa ini, perasaan yang ada dalam hatiku, aku juga takut dan tidak mengerti, mengapa perasaan ini hadir begitu cepat dan benar katamu, ini tiba-tiba. kau selalu bertanya sejak kapan, tanpa aku bisa menjawab, tak ada penjelasan untuk cinta ini, yang ku tau, aku benar-benar sayang dan cinta padamu.
       ini adalah jum'at ketiga di bulan maret, dan itu berarti, sudah tiga kali pula aku mendoakanmu, berharap kamu adalah orang yang akan mengingatkan ku untuk selalu berjamaah di rumah. kata teman, aku terlalu bermimpi, bermimpi disiang hari, dia tak pantas untukmu, jadi jangan terlalu berharap padanya. coba lihat siapa dirimu. ah, aku tak peduli, mengapa aku harus memikirkan hal yang masih belum terjadi, aku sepakat dengan sahabatku yang lain, ia bilang aku harus percaya diri.
entah aku yang salah atau aku benar, semua buram atas nama cinta, tak ada yang salah dan tak ada yang benar, semua indah atas nama cinta. melihatmu indah, membayangkanmu indah, merindukanmu juga indah, tapi cinta ini juga menyakitkan, sakit karena kau jauh, sakit karena kau tak nyata, sakit karena kau hanya nama. lalu cinta ini apa ?
     mendengar suaramu aku bahagia, mendengarmu tertawa aku senang, ini kah keajaiban cinta ? atau hanya aku saja yang merasa. ini juga bukan pertama kalinya aku merasa kahawatir bila tak mendapat kabar darimu, sehari bagai setahun, serasa sepi dan hidup sendiri. ini lebih pahit dari sekedar menelan pil pahit tanpa air.
dan sekali lagi, aku ingin mengatakan aku sayang padamu fillah, ingin ku berteriak namun dalam hati, ingin ku ungkap dan ku urai, semua dialog dalam hati, andai saja kau tau, sebentar saja kau mau mendengar cerita ini, sungguh hatiku tak pernah berhenti menyebut namamu, dan aku takut aku kufur karena terlalu mencintaimu, aku takut Tuhan akan marah dan cemburu karena aku terlalu sering mngingat dan menyebutmu.
         pernah sore itu, ketika aku sendiri memandangi senja, ku coba berbisik pada angin, bercerita tentangmu...  banyak sekali, aku tersenyum sendiri, saat burung-burung kecil melintas dihadapanku, aku baru sadar seru muadzin telah meninggalkanku.